<div style='background-color: none transparent;'> <a href='http://news.rsspump.com/' title=''> news </a> </div>

Pages - Menu

12 Jul 2013

Semoga puasa kita diterima

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. 
Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. 

Sahabat Abi yang dimuliakan الله swt, ada beberapa hal yang membuat amalan puasa kita menjadi sia-sia 
semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini... 
Dimana 
Yang pertama adalah
Berkata Dusta (az zuur)
Inilah perkataan yang membuat puasa kita jadi sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja. 
Rasulullah saw bersabda:


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). 
Apa yang dimaksud dengan az zuur? 
az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah... 
Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah الله larang...
Lalu yang kedua adalah
Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)
Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa kita menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats. 
Rasulullah bersabda
,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، 
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja

إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، 
Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats

فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ 
Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu

فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
katakanlah padanya, 
“Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” 

Apa yang dimaksud dengan lagwu? 
Didalam kitab Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,bahwasanya

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه
“Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.” 

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? 
Didalam Kitab Fathul Bari (5/157), 
Ibnu Hajar mengatakan
,
وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل
“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Lalu Syeh Al Azhari juga mengatakan
:
الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة
“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki laki pada wanita.” 
Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno...
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia sia. 

Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain. 

Yang ketiga adalah
Melakukan Berbagai Macam Maksiat

Kita harus Ingat bahwasanya puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa jg menjauhi perbuatan yang haram. 

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus : 
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. 
Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” 
(Lihat dikitab Latho’if Al Ma’arif 1/168, Asy Syamilah) 

Itulah seburuk buruknya puasa yaitu dimana hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. 
Untuk itu kita harus menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. 

Ibnu Rojab mengatakan,

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ
“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

Ada jama'ah yang bertanya:
Dimana pertannyaannya :

Apakah dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?

Untuk menjelaskan hal ini, Ibnu Rojab mengatakan : 
“Mendekatkan diri pada الله Ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada الله dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), 
maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah.
Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. 

Kenapa bisa begitu...
Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”

Ibnu Hajar didalam kitab Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya : 
“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).” 

Lalu Mala ‘Ali Al Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) berkata bahwasanya “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”
Sahabat  yang dimuliakan الله swt...
Kesimpulannya : Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, menfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi الله. 
Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. 
Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. 
Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? 
Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini. 
Rasulullah saw bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ 
Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ 
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” 
(HR. Muslim no. 1151)

Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? 
Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini. 
“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan الله swt akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. 
Karna alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. 
Mengenai ganjaran sabar, Allah berfirman...

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” 
(QS. Az Zumar [39] : 10). 

Sahabat Abi yang dimuliakan الله swt
Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. 
Juga dalam hadits lain, Nabi saw bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” 
(HR. Tirmidzi). 

Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi taqdir الله yang terasa menyakitkan. 
Didalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan الله yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. 
DiDalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman الله,
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan
الله

وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ 

dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir

وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا 
dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musu

إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ 
melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” 
(QS. At Taubah :120).”Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkapkan rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena didalam puasa tersebut terdapat sikap sabar...

Sekali lagi... 
janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi الله dari amalan puasamu tersebut.

Marilah kita isi hari hari di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. 
Janganlah kita berpikiran bahwa karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. 
Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktu kita di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.
dan sebagai penutup artikel ini sesungguhnya rosullulloh bersabda:


رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”


Semoga الله memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.
Amiiin ya rabbal'alamin


Yang ingin berkomentar tidak mempunyai ID gunakan anonymous

 
Copyright © 2011. aswaja club .
terima kasih | محمد صلى الله عليه وسلم | الله | abah | mbo'e | uti | sponsor: toko " ahmad fajar " | Jagoan Hosting
maskolis . Inpire Rockettheme powered by Blogger
Imam asy-Syafi’i: "Termasuk salah satu bentuk tipu daya syetan adalah, seseorang meninggalkan amal karena takut dikatakan riya oleh orang lain"